Kamis, 14 Juni 2018

CARA PERAWATAN JAGUNG PASCA PANEN AGAR MENGHASILKAN JAGUNG BERKUALITAS TINGGI


Perawatan jagung mulai dari menanam sampai panen memang haruslah diperhatikan agar mendapatkan hasil yang memuaskan dan berkualitas. Apalagi ketika mulai pasca panen, banyak para petani yang gagal untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Karena kurangnya pengetahuan tentang cara merawat jagung ketika mulai pasca panen. Karena terdapat tahapan - tahapannya sendiri. Untuk itu, kita akan membahas tahapan - tahapan pasca panen jagung yang berkualitas.

1. Panen
Mutu hasil panen jagung akan baik bila jagung dipanen pada tingkat kematangan yang tepat (matang optimal). Sebagai tanda jagung siap panen/ matang optimal antara lain : bila kelobot telah berwarna kuning, biji telah keras dan warna biji mengkilap, jika ditekan dengan ibu jari tidak lagi ditemukan bekas tekanan pada biji tersebut, pada keadaan seperti ini kadar air sudah mencapai sekitar 35%. Cara lain untuk menentukan tingkat kematangan jagung adalah terbentuknya lapisan berwarna hitam pada butiran (black layer tissue formation), terbentuk dalam selang waktu lebih kurang tiga hari bersamaan dengan tercapainya berat kering maksimum pada butiran.
Waktu panen sebaiknya dilakukan pada hari-hari cerah, jangan pada saat hujan agar supaya penanganan jagung setelah dipanen yaitu pengeringan tidak mendapat hambatan.

2. Pengeringan
Jagung yang berasal dari proses pemanenan biasanya memiliki kadar air yang terlalu tinggi dan amat berbahaya pada proses penyimpanan. Pengeringan diperlukan untuk mengurangi kadar air bahan sehingga aman untuk disimpan. Dengan pengeringan jagung juga lebih mudah untuk dipipil. Pengeringan pada jagung dapat dilakukan dalam beberapa tahap yaitu:

a. Pengeringan jagung tongkol di lahan, cara ini biasanya digunakan para petani di daerah yang memiliki karakteristik tadah hujan dan kering yang periode perisapan penanaman berikutnya tidak mendesak

b. Pengeringan dalam bentuk jagung tongkol

c. Pengeringan dalam bentuk jagung pipilan.

Untuk pengeringan jagung tongkol sendiri terbagi menjadi 2 bentuk yaitu jagung tongkol berkelobot dan jagung tongkol tanpa kelobot, namun perlu diperhatikan bahwa pengeringan jagung tongkol berkelobot tidak dianjurkan karena memakan waktu yang lama dan hasilnya tidak baik.

3. Pemipilan
Pemipilan adalah pemisahan biji jagung dari tongkolnya. Pemipilan dapat dilakukan bila tongkol sudah kering dan kadar air biji tidak lebih dari 18%, yaitu bila dipipil dengan tangan lembaga tidak tertinggal pada janggel. Pipilan jagung pada kadar air tersebut lebih mudah dan kerusakan mekanis dapat ditekan. Alat pemipil yang lebih maju yaitu yang disebut corn sheller yang dijalankan dengan motor. Jagung dalam kondisi masih bertongkol dimasukkan kedalam lubang pemipil (hopper) dan karena ada gerakan dan tekanan, pemutaran yang berlangsung dalam corn sheller maka butir-butir biji akan terlepas dari tongkol, butir-butir tersebut langsung akan keluar dari lubang pengeluaran untuk selanjutnya ditampung dalam wadah atau karung. Pemipil dengan alat ini sangat efektif karena relatif 100% butir-butir jagung dapat terlepas dari tongkolnya (kecuali butir-butir yang terlalu kecil yang terdapat di bagian ujung tongkol).

4. Sortasi atau Pembersihan
Sortasi dilakukan untuk mendapatkan bahan dengan kualitas yang seragam dan mengelompokkan bahan dengan kualitas yang sama. Sortasi jagung memisahkan biji jagung sehat (baik) dari biji-biji pecah, rusak, dan hampa serta untuk menyeragamkan ukuran butirannya. Proses pembersihan bertujuan untuk membersihkan butiran jagung dari kotoran seperti sisa tongkol, seresah, dan kotoran-kotoran lainnya. proses sortasi dan pembersihan dapat dilakukan dengan cara manual (konvensional) menggunakan tangan dan peralatan sederhana atau dengan menggunakan cara mekanis yaitu menggunakan alat dan mesin pertanian.

5. Penyimpanan
Setelah butir jagung bersih dan memiliki kadar air yang sesuai untuk proses penyimpanan maka proses selanjutnya adalah penyimpanan. Tujuan dari penyimpanan adalah untuk menjaga kualitas yang dimiliki oleh biji-bijian, kualitas dari bijian tidak dapat ditingkatkan selama proses penyimpanan sehingga menjaga agar kualitas butir jagung baik harus dilakukan dari awal proses pascapanen. Tak dipungkiri kerusakan bijian akan terjadi selama proses penyimpanan apalagi jagung adalah bahan biologis yang mengalami proses metabolisme dan kadar air, hal ini dipengaruhi oleh lingkungan seperti suhu dan kelembaban. Terdapat beberapa faktor penyebab kerusakan bijian, salah satunya adalah jamur, serangga, tikus, respirasi bijian, dan migrasi air. Penyimpanan pada jagung terbagi menjadi 2 metode yaitu penyimpanan dalam karung dan penyimpanan curah.